Skip to main content

Mengenal Merapi

Gunung Merapi, merupakan salah satu gunung yang sangat aktif di Indonesia. Secara administratif terletak di kawasan 5 kabupaten / kota. Bagian selatan merupakan Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta. Bagian Utara dan Timur berada di daerah Magelang, Boyolali dan Klaten. 

Secara fisiografis, di sebelah utara berderet kerucut gunungapi dari selatan ke utara, Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. 

fisiografis merapi
Fisiografis Merapi

Sedangkan ke arah baratlaut terdapat Gunungapi Sumbing, Sindoro dan Kompleks Dieng. Dan sebelah timur terdapat Gunung Lawu. Kemudian di sebelah selatan Gunung Merapi terbentang Pegunungan Selatan yang ke timur menerus ke Jawa Timur. dan bagian barat terdapat Pegunungan Kulonprogo. Di antara Gunung Merapi dan Pegunungan Kulonprogo di daerah Salam dan Muntilan, Kab. Magelang terdapat Perbukitan Gendol yang diyakini sebagai gunung api purba. Sedangkan di sebelah selatan terdapat Gunungapi Purba Godean. 

Berikut adalah gambar zona-zona lemah yang menyebabkan magma dapat menuju permukaan.

zona-zona lemah yang menyebabkan magma dapat menuju permukaan
Zona-zona emah yang menyebabkan magma dapat menuju permukaan

Gunung Merapi terdiri atas bentang alam Merapi Tua di sebelah Timur dan Merapi Muda di sebelah Barat. Diambil dari sisi Utara.

merapi muda dan merapi tua
Merapi Tua dan Merapi Muda

Itulah kurang lebih fisiografi dari Gunung Merapi, selanjutnya kita akan membahas karakteristik Gunung Merapi. Perselingan erupsi letusan dengan erupsi leleran memuntahkan bahan piroklastika dan aliran lava membentuk kerucut gunungapi komposit. 

Tipe Erupsi Merapi, yaitu membentuk kubah lava kemudian longsor menghasilkan aliran piroklastika guguran kubah lava. Endapan aliran piroklastika tertimpa hujan lebat membentuk aliran lahar hujan. Erupsi dalam sejarah rata-rata setiap 4 – 5 tahun sekali. Sejak 2006 dan 2010 terjadi erupsi letusan menghasilkan aliran piroklastika letusan dan hujan abu.

erupsi tipe merapi
Erupsi Gunung Berapi Tipe Merapi

Guguran Kubah Lava Pijar Merapi
Guguran Kubah Lava Pijar Merapi


Aliran Piroklastik Merapi


Perkembangan Kubah Lava (Lava Dome) Merapi
Perkembangan Kubah Lava (Lava Dome) Merapi




Perkembangan Kubah Lava (Lava Dome) Merapi




Sejarah Perkembangan Morfologi Merapi
Sejarah Perkembangan Morfologi Merapi

Kita rasa cukup untuk karakteristik Merapi secara morfologi, selanjutnya kita akan membahas mengenai Petrologi dan Geokimia Gunung Merapi.

Petrologi : Lava , breksi dan tuff:  andesit – andesit basal piroksen. Batuan Pra-Merapi (G. Turgo): basal piroksen muncul olivin. Hasil erupsi sangat eksplosif (VEI : 3) menghasilkan lapili pumice andesit hornblende. Selain itu juga menghasilkan bom gunungapi.

Bom Gunung Api
Bom Gunung Api

Bom Gunung Api
Bom Gunung Api

Secara Geokimia : batuan Gunung Merapi berupa basal–andesit (52–58 % SiO2) yang merupakan seri magma kalk-alkali tinggi (Na2O + K2O = 5-6 %).

Tentang Gigantic Lanslide


Gigantic Lanslide
Gigantic Lanslide

Inilah gambaran umum dari bencana yg dapat disebabkan oleh erupsi sebuah gunungapi yang dimulai dari aktivitas tektonik.

Glowing avalanche, Lahar, gas beracun dan lontaran batu merupakan bencana dari erupsi gunung api yang harus dapat kita hindari. Kemudian bahaya terbesarnya adalah Gigantic Landslide, banyak sinonim dari kejadian ini seperti volcanic dry avalanches (Ui, 1983) , Rock Slide avalanches (Voight dkk, 1981), Volcanic Debris Avalanches (Siebert, 1984) & Longsoran Gunung Api (Bronto, 2001).

Longsoran sebagian tubuh kerucut gunung api komposit sehingga membentuk kawah tapal kuda (horse shoe-shaped craters) membuka ke arah tertentu dan di depannya terhampar perbukitan yg membentuk topografi gumuk (hummocky topography) tinggi 30–100 m di antaranya terdapat cekungan terpisah-pisah (isolated depressions) Volume bahan longsoran sangat besar (> 0,1 km3), jarak luncur hingga puluhan km & daerah terlanda sangat luas (ratusan km2). Endapan terfrakturasi sangat kuat, terdiri atas block phases (intact strata) & matrix phases sebagai endapan kataklastika gunungapi.

Inilah tahap-tahapan bencana Gigantic Landslide, dan juga pernah terjadi di beberapa daerah sebelumnya. 

gigantic landslide st helen
Mt St Helens

Horse-shoe shaped G. Galunggung
Horse-shoe shaped G. Galunggung 

Foto morfologi horse-shoe shaped yang terbentuk akibat longsoran gunungapi. Lokasi : Gunung Galunggung, Tasikmalaya.

Foto Endapan Setelah Gigantic Landslide Galunggung
Foto Endapan Setelah Gigantic Landslide Galunggung

Foto Endapan Setelah Gigantic Landslide Galunggung
Foto Endapan Setelah Gigantic Landslide Galunggung

Berdasarkan hasil penelitian terkini Bronto dkk (2014) melaporkan bahwa Gunung Merapi pernah longsor seperti Mount St. Helens (1980). Longsorannya sangat besar, menutup daerah Kabupaten Magelang bagian selatan dan Sleman sampai dengan wilayah Godean (30-35 km dari Puncak Merapi). Selanjutnya endapan longsoran Merapi itu tererosi menjadi lahar yang mengalir sampai Kab. Bantul, yang berjarak lebih dari 50 km dari puncak Merapi.


Bongkahan Andesit 
Bongkah andesit hasil frakturasi aliran lava pada saat longsoran. Lokasi : Dusun Pendekan, Margodadi, Seyegan - Sleman.

Di dalam intact strata – block phases terdapat lapisan endapan piroklastika yang mengandung bom kerak roti dan skoria.




Perlapisan endapan juga mengandung bahan rombakan, jigsaw cracks (rekahan gergaji) dan sesar minor.

singkapan endapan lahar di moyudan
Singkapan endapan lahar di Dusun Nglahar, Desa Sumbersari, Kec. Moyudan, Sleman. Sebagai bukti pernah terlanda lahar 


bongkah besar andesit di Desa Argomulyo, Kec. Sedayu, Bantul
Dijumpai sebaran bongkah besar andesit di Desa Argomulyo, Kec. Sedayu, Bantul


Endapan lahar G. Merapi di Dsn. Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan Bantul
Endapan lahar G. Merapi di Dsn. Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan Bantul


Diduga Merapi Telah Longsor 3 Kali
Diduga Merapi Telah Longsor 3 Kali

KESIMPULAN 

  1. Longsoran raksasa Gunung Merapi berarah W-SW mencapai wilayah Godean, yg berjarak 30-35 km dengan volume lk. 10 km3.
  2. Ke arah selatan endapan longsoran menjadi lahar, melanda daerah Bantul, yang berjarak > 50 km dari puncak Merapi. Sehingga luas total daerah terdampak > 300 km2.


SARAN : Untuk mengantisipasi bencana katastrofik serupa pada masa mendatang diperlukan penelitian dan mitigasi lebih seksama.


Kul-tweet ini berdasarkan materi kuliah umum dari Bapak Prof. (Ris) Dr. Ir. Sutikno Bronto, ucapan terimakasih sebesar-besarnya untuk beliau

Sumber : https://twitter.com/gempabumi2016/status/586129837644849155


Artikel Terkait

Comments