Skip to main content

Sekilas Mengenal Letusan Gunung Agung

Sedikit catatan kecil dari sekian banyak catatan terkait gunung api di Indonesia, kami coba menyimpannya dalam postingan di blog ini, itu pun hanya sekilas yang menunjukkan masih sedikit sekali apa yang bisa kami pahami. Gunung Agung akhir-akhir ini jadi perhatian kami pribadi, mengikuti update lewat medsos seperti di grup facebook info mitigasi yang sebagian besar sumber info dari masyarakat maupun relawan di Bali. Sambil menunggu episode-episode selanjutnya, kami kutipkan beberapa tulisan terkait Gunung Agung hasil search di google.

Sejarah Letusan
Letusan Gunung Agung yang diketahui sebanyak 4 kali sejak tahun 1800
  • 1808, Dalam tahun ini dilontarkan abu dan batu apung dengan jumlah luar biasa
  • 1821, Terjadi letusan normal, selanjutnya tidak ada keterangan
  • 1843, Letusan didahului oleh gempa bumi. Material yang dimuntahkan yaitu abu, pasir, dan batu apung.
  • Selanjutnya dalam tahun 1908, 1915, dan 1917 di berbagai tempat di dasar kawah dan pematangnya tampak tembusan fumarola.
  • 1963, Letusan dimulai tanggal 18 Februari 1963 dan berakhir pada tanggal 27 Januari 1964. Letusan bersifat magmatis. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.
Kronologi Letusan tahun 1963
  • 16 Februari 1963,terasa gempa bumi ringan oleh penghuni beberapa Kampung Yekhori (lk. 928 m dari muka laut) di lereng selatan, kira-kira 6 km dari puncak Gunung Agung.
  • 17 Februari 1963, terasa gempa bumi di Kampung Kubu di pantai timur laut kaki gunung pada jarak lebih kurang 11 km dari lubang kepundannya.
  • 18 Februari 1963, kira-kira pukul 23.00 di pantai utara terdengar suara gemuruh dalam tanah.
  • 19 Februari 1963, pukul 01.00 terlihat gumpalan asap dan bau gas belerang. Pukul 03.00 terlihat awan yang menghembus dari kepundan,makin hebat bergumpal-gumpal dan dua jam kemudian mulai terdengar dentuman yang nyaring untuk pertama kalinya. Suara yang lama bergema ini kemudian disusul oleh semburan batu sebesar kepalan tangan dan diakhiri oleh semburan asap berwarna kelabu kehitam-hitaman .  Sebuah bom dari jauh tampak sebesar buah kelapa terpisah dari yang lainnya dan dilontarkan lewat puncak ke arah Besakih. Penghuni Desa Sebudi dan Nangka di lereng selatan mulai mengungsi, terutama tidak tahan hawa sekitarnya yang mulai panas dan berbau belerang itu. Di sekitar Lebih, udara diliputi kabut, sedangabu mulai turun. Air di sungai mulai turun. Air di sungai telah berwarna coklat dan kental membawa batu dengan suara gemuruh, tanda lahar hujan permulaan. Penghuninya tetap tenang dan melakukan persembahyangan. Pukul 10.00 terdengar lagi suara letusan dan asap makin tebal. Pandangan ke arah gunung terhalang kabut, sedang hujan lumpur mulai turun di sekitar lerengnya. Di malam hari terlihat gerakan api pada mulut kawah, sedangkan kilat sambung-menyambung di atas puncaknya.
  • 20 Februari 1963,gunung tetap menunjukkan gerakan berapi 06.30 terdengar suara letusan dan terlihat lemparan bom lebih besar. 07.30 penduduk Kubu mulai panik, banyak diantara mereka mengungsi ke Tianyar, sedangkan penghuni dari lereng selatan pindah ke Bebandem dan Selat.
  • 21 Februari 1963,asap masih tetap tebal mengepul dari kawah.. Pukul 12.30 tampak leleran lava ke arah Blong di utara.
  • 22 Februari 1963,kegiatan terus menerus berupa letusan asap serta loncatan api dan suara gemuruh.
  • 23 Februari 1963, pukul 08.30 sekitar Besakih, Rendang dan Selat dihujani batu kecil serta tajam, pasir serta abu.
  • 24 Februari 1963, hujan lumpur lebat turun di Besakih mengakibatkan beberapa bangunan Eka Dasa Rudra roboh. Penduduk Temukus mengungsi ke Besakih. Awan panas letusan turun lewat Tukad Daya hingga di Blong.
  • 25 Februari 1963,pukul 15.15 awan panas turun di sebelah timurlaut lewat Tukad Barak dan Daya. Lahar hujan di T. Daya menyebabkan hubungan antara Kubu dan Tianyar terputus. Desa Bantas-Siligading dilanda awan panas mengakibatkan 10 orang korban. Lahar hujan melanda 9 buah rumah di Desa Ban , korban 8 orang.
  • 26 Februari 1963,lava di utara tetap meleler. Lahar hujan mengalir hingga di Desa Sogra, Sangkan Kuasa. Asap tampak meningkat dan penduduk Desa Sogra, sangkan Kuasa, Badegdukuh dan Badegtengah mengungsi ke selatan. Di Lebih hujan yang agak kental dan gatal turun. Lahar terjadi di sekitar Sidemen. Juga lahar mengalir di utara di T. Daya dan T. Barak. Pukul 18.15 hujan pasir di Besakih. Pangi diliputi hawa belerang yang tajam sekali.Penduduknya mengungsi ke Babandem. Kemudian kegiatan G. Agung ini terus menerus berlangsung, boleh dikatakan setiap hari hujan abu turun, sementara sungai mengalirkan lahar dan lava terus meleler ke utara.
  • 17 Maret 1963,merupakan puncak kegiatan. Tinggi awan letusan mencapai klimaksnya pada pk. 05.32. Pada saat itu tampak awan letusannya menurut pengamatan dari Rendang sudah melewati Zenith dan keadaan ini berlangsung hingga pukul 13.00. Awan panas turun dan masuk ke T. Yehsah, T. Langon, T. Barak dan T. Janga di selatan. Di utara gunung sejak pukul 01.00 suara letusan terdengar rata-rata setiap lima detik sekali. Awan panas turun bergumpal-gumpal menuju T. Sakti, T. Daya dan sungai lainnya di sebelah utara. Mulai pukul 07.40 lahar hujan terjadi mengepulkan asap putih, dan ini berlangsung hingga pukul 08.10. Pukul 08.00 turun hujan abu, pada pukul 09.20 turun hujan kerikil, dan sementara itu awan panas pun turun bergelombang. Pada pukul 11.00 hujan abu makin deras hingga penglihatan sama sekali terhalang. Pada pukul 12.00 lahar yang berasap putih itu mulai meluap dari tepi T. Daya. Baru pukul 12.45 hujan abu reda dan kemudian pukul 15.30 suara letusan pun berkurang untuk selanjutnya hilang sama sekali. Adapun sungai yang kemasukan awan panas selama puncak kegiatan ini adalah sebanyak lk. 13 buah di lereng selatan dan 7 buah di lereng utara. Jarak terjauh yang dicapainya adalah lk.14 km, ialah di T. daya di utara. Sebelah barat dan timur gunung bebas awan panas. Lamanya berlangsung paroksisma pertama ini yakni selama lk. 10 jam yakni dari pukul 05.00 hingga pukul 15.00.
  • 21 Maret 1963, Kota Subagan, Karangasem terlanda lahar hujan hingga jatuh korban lk. 140 orang. Setelah letusan dahsyat pada tanggal 17 Maret ini, maka aktivitasnya berkurang, sedang suara gemuruh yang tadinya terus menerus terdengar hilang lenyap. Demikian leleran lava ke utara berhenti pada garis ketinggian 501,64 m dan mencapai jarak lk. 7.290 m dari puncak.
  • 16 Mei 1963, Paroksisma kedua diawali oleh letusan pendahuluan, mula-mula lemah dan lambat laun bertambah kuat. Pada sore hari 16 Mei, kegiatan meningkat lagi terus menerus, hingga mencapai puncaknya pada pukul 17.07. Pada umumnya kekuatan letusan memuncak untuk kedua kali ini tidak sehebat yang pertama. Awan letusannya mencapai tinggi lk. 10.000 m di atas puncak, sedang pada pukul 17.15 hujan lapili mulai turun hingga pukul 21.13. Sungai yang kemasukan awan panas adalah sebanyak 8 buah, 6 di selatan dan 2 di utara. Jarak paling jauh yang dicapai lk. 12 km yakni di Tukad Luah, kaki selatan. Lamanya berlangsung paroksisma lk. 6 jam, yakni dari pukul 16 hingga sekitar pukul 21.00. Pada umumnya kekuatan letusan memuncak untuk kedua kali ini tidak sehebat yang pertama. Awan letusannya mencapai tinggi lk. 10.000 m di atas puncak, sedang pada pukul 17.15 hujan lapili mulai turun hingga pukul 21.13. Sungai yang kemasukan awan panas adalah sebanyak 8 buah, 6 di selatan dan 2 di utara. Jarak paling jauh yang dicapai lk. 12 km yakni di Tukad Luah, kaki selatan. Lamanya berlangsung paroksisma lk. 6 jam, yakni dari pukul 16 hingga sekitar pukul 21.00.
  • NoVember 1963,tinggi asap solfatara/fumarola mencapai lk. 500 m di atas puncak. Sejak Nopember warna asap letusan adalah putih.
  • 10 Januari 1964,tinggi hembusan asap mencapai 1500 m di atas puncak
  • 26 Januari 1964, pukul 06.50 tampak kepulan asap dari puncak G. Agung berwarna kelabu dan kemudian pada pukul 07.02, 07.05 dan 07.07 tampak lagi letusan berasap hitam tebal serupa kol kembang, susul menyusul dari tiga buah lubang, mula-mula dari sebelah barat lalu sebelah timur mencapai ketinggian maksimal lk. 4.000 m di atas puncak. Seluruh pinggir kawah tampak ditutupi olaeh awan tersebut. Suara lemah tetapi terang terdengar pula.
  • 27 Januari 1964, kegiatan G. Agung berhenti
Karakter Letusan
Pola dan sebaran hasil letusan lampau sebelum tahun 1808, 1821, 1843, dan 1963 menunjukkan tipe letusan yang hampir sama, diantaranya adalah bersifat eksplosif (letusan dengan melontarkan batuan pijar, pecahan lava, hujan piroklastik dan abu), dan efusif berupa aliran awan panas, dan aliran lava (Sutikno B., 1996).

Gunung Agung 2017
  • 10 Agustus 2017, mulai ada peningkatan jumlah gempa vulkanik dan tektonik lokal 
  • 13 September 2017, muncul sulfatara 
  • 14 September 2017 status naik dari Normal menjadi Waspada
  • 18 September 2017 pukul 21.00 WITA, status naik menjadi Siaga, setelah sebelumnya muncul air ke permukaan yang mengindikasikan adanya gangguan hidrologis akibat pergerakan magma.
  • 22 September 2017 pukul 20.30 WITA, naik level dari Siaga menjadi Awas setelah terpantau gempa vulkanik yang signifikan dan pola peningkatan energi seismik yang mengarah ke erupsi
  • 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA, status turun dari Awas menjadi Siaga,karena kegempaan yang turun drastis
  • Selang beberapa lama dalam status siaga dan gempa vulkanik yang turun drastis, tiba-tiba tanggal 21 November 2017 mulai pukul 17:05 WITA teramati erupsi freatik pertama Gunung Agung yang menghasilkan asap berwarna kelabu tebal dengan tinggi maksimum 700 m di atas puncak.
  • 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status Gunung api Agung kembali dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas) setelah serangkaian kejadian di tanggal 25 dan 26 November 2017 seperti letusan asap putih hingga kelabu dengan ketinggian 3000 m, hujan abu sampai mengganggu penerbangan, dan  gempa tremor beberapa kali over scale.

Letusan Gunung Agung Tanggal 25 November 2017
Sumber : Grup FB #info_mitigasi
Gunung Agung Dari Besakih 26 November 2017
Sumber : Grup FB #info_mitigasi
Gunung Agung Dari Bukit Cinta 27 November 2017,pukul 20.00 WITA
Sumber : Grup FB #info_mitigasi

Memasuki akhir tahun 2017 aktivitas Gunung Agung secara umum mengalami penurunan, namun  status masih bertahan di level AWAS. 

13 Desember 2017
Ada yang naik ke puncak Gunung Agung , berikut videonya :
Aktivitas Gunung Agung Tahun 2018

19 Januari 2018 pukul 19:22 WITA
Terjadi letusan dengan tinggi abu mencapai 2500 m di atas puncak condong ke Timur dan lontaran material pijar mencapai jarak radial sekitar 1000 m di atas puncak. Masyarakat agar tetap tenang dan tidak beraktivitas di dalam radius 6 km.




Status siaga terus dijalani oleh Gunung Agung dari bulan ke bulan, aktivitas layaknya gunung lain yang dalam keadaan siaga. Saat itu bulan Juni tepatnya tanggal 28 Juni 2018 Gunung Agung mengalami mikrotremor berjam-jam disertai muntahan pasir dan abu vulkanik dengan ketinggian yang stabil.

Mikrotremor Gunung Agung Tanggal 28 Juni 2018
Mikrotremor Gunung Agung Tanggal 28 Juni 2018

Gunung Agung  Jam 18:02 WITA / 28 Juni 2018
Gunung Agung  Jam 18:02 WITA / 28 Juni 2018

Gunung Agung 29 Juni 2018
Gunung Agung Masih Terus Terjadi Mikrotremor Dan Keluar Asap Tanggal 29 Juni 2018

Video Detik-detik Gunung Agung Meletus Tanggal 2 Juli 2018 Jam 21.08 WITA


INFORMASI ERUPSI G. AGUNG, Tgl .02 Juli 2018
Pkl. 21:04 WITA terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu vulkanik ± 2.000 m di atas puncak. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong kearah Barat. Lama Gempa erupsi ± 7 menit 21 detik. Erupsi terjadi secara Strombolian dengan suara dentuman. Lontaran lava pijar teramati keluar kawah mencapai jarak 2 km.

INFORMASI ERUPSI G. AGUNG, Tgl. 03 Juli 2018
Pkl. 04:13 WITA terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu vulkanik ± 2.000 m diatas puncak. Kolom abu teramati berwarna putih - kelabu dengan intensitas tebal condong kearah Barat. Lama erupsi ± 7 menit.

Seismik Gunung Agung Saat Terjadi Letusan
Seismik Gunung Agung Saat Terjadi Letusan

Selasa, 3 Juli 2018  
Letusan pukul 09.28 WITA tinggi kolom abu 2.000 meter dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Letusan kedua pukul 09.46 WITA setinggi 500 m ke barat.

Gunung Agung 3 Juli 2018 Pukul 09.32 WITA
Gunung Agung 3 Juli 2018 Pukul 09.32 WITA

Rabu, 4 Juli 2018
Erupsi Gunung Agung 4 Juli 2018
Pukul 03:25 dan 05:06 WITA letusan dengan tinggi 1000-2000 m dan warna asap kelabu.

Pukul 12:20 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 2.500 m di atas puncak (± 5.642 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 24 mm dan durasi ± 1 menit 58 detik.

letusan gunung agung 4 juli 2018
Gunung Agung 4 Juli 2018 Pukul 12.27 WITA

 
seismograf gunung agung
Seismograf Gunung Agung Tetap Aktif


Pukul 22:16 WITA erupsi namun tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi ± 3 menit 17 detik.

Kamis, 5 Juli 2018

Pukul 00:47 WITA  erupsi dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.000 m di atas puncak (± 4.142 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 12 mm dan durasi ± 1 menit 43 detik.

Pukul 16:33 WITA,  erupsi dengan kolom abu putih- kelabu tinggi lebih kurang 2800 meter, condong ke barat dan timur.

Erupsi Gunung Agung 5 Juli 2018, jam 16.33 WITA
Erupsi Gunung Agung 5 Juli 2018, jam 16.33 WITA


Erupsi Gunung Agung 6 Juli 2018
Pukul 12:49 WITA namun tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 24 mm dan durasi ± 1 menit 30 detik.

Pukul 19:21 WITA namun tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 24 mm dan durasi ± 1 menit 10 detik.

Erupsi Gunung Agung 8 Juli 2018
Pukul 05:22 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.500 m di atas puncak (± 4.642 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 24 mm dan durasi ± 2 menit 38 detik.

Pukul 10:00 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 500 m di atas puncak (± 3.642 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 24 mm dan durasi ± 2 menit 30 detik.

Pukul 15:59 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.500 m di atas puncak (± 4.642 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 24 mm dan durasi ± 1 menit 36 detik.

Erupsi Gunung Agung 9 Juli 2018

Pukul 11:20 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 2.000 m di atas puncak (± 5.142 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 24 mm dan durasi ± 2 menit 42 detik.

Erupsi Gunung Agung 11 Juli 2018

Pukul 00:50 WITA namun tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 24 mm dan durasi ± 3 menit 45 detik.


Sumber :
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.2017. Peningkatan Status Gunungapi Agung, Bali Dari Level III (siaga) Ke Level IV (awas). Diakses 8 Desember 2017.

Suparman,Yasa Gunung Api Indonesia, Agung Bali . Diakses 8 Desember 2017

Media Sosial akses 2018

Artikel Terkait

Comments